Rumah Cacak Burung Rumah Cacak Burung adalah salah satu rumah tradisional  Suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan, rumah induk yang  memanjang dari muka ke belakang memakai atap pelana (bahasa Banjar :

Apa Itu Rumah Cacak Burung?

Rumah Cacak Burung adalah salah satu rumah adat tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan container homes portugal . Nama “Cacak Burung” sendiri diambil dari bentuk khas pada bagian depan rumah yang mirip seperti burung dengan sayap terbuka. Unik banget, kan?

Di masa lalu, rumah ini bukan cuma tempat tinggal, tapi juga lambang status sosial dan spiritual. Rumah ini biasanya dimiliki oleh para bangsawan atau tokoh penting masyarakat Banjar.


Bentuk Rumah yang Beda dari yang Lain

Kalau kamu lihat langsung, Rumah Cacak Burung ini punya tampilan yang sangat mencolok. Di bagian depan atapnya ada semacam hiasan kayu menyerupai burung, seolah sedang terbang. Ini bukan hiasan biasa, loh. Ada makna dalam di baliknya.

Selain itu, rumah ini punya atap yang tinggi dan curam, dengan dinding dari kayu ulin—kayu khas Kalimantan yang kuat dan tahan lama. Di bagian bawah, rumah ini dibangun di atas tiang-tiang tinggi. Ini membantu menghindari banjir dan serangan binatang liar.


Makna di Balik “Cacak Burung”

Kenapa harus bentuk burung? Dalam kepercayaan masyarakat Banjar, burung melambangkan kebebasan dan kekuatan. “Cacak” sendiri artinya semacam tanda atau simbol.

Jadi, bagian “cacak burung” di rumah ini bukan cuma hiasan seni, tapi juga simbol perlindungan dan doa agar penghuni rumah selalu aman, sejahtera, dan diberi petunjuk hidup. Ini jadi bukti kalau arsitektur tradisional Indonesia sarat filosofi, bukan cuma estetika.


Fungsi Sosial dan Budaya Rumah Cacak Burung

Selain sebagai tempat tinggal, Rumah Cacak Burung dulu juga sering jadi pusat kegiatan adat. Misalnya, untuk upacara keagamaan, musyawarah, atau perayaan adat lainnya.

Biasanya rumah ini punya ruang yang luas di bagian tengah, tanpa banyak sekat. Ini supaya keluarga besar bisa kumpul bareng dalam satu ruangan, terutama saat acara penting.

Jadi, rumah ini bukan cuma bangunan fisik, tapi juga ruang sosial dan budaya bagi masyarakat Banjar.


Sudah Langka, Tapi Masih Dijaga

Sayangnya, di zaman modern ini, Rumah Cacak Burung mulai jarang ditemukan. Banyak yang beralih ke rumah permanen dari beton karena lebih praktis dan dianggap kekinian.

Tapi, masih ada beberapa desa di Kalimantan Selatan yang menjaga rumah ini sebagai warisan budaya. Pemerintah daerah dan komunitas lokal juga mulai aktif melestarikannya—dari membuat replika sampai menjadikannya objek wisata budaya.


Kenapa Harus Dilestarikan?

Rumah adat seperti Cacak Burung ini bukan sekadar bangunan tua. Ini adalah identitas, bukti sejarah, dan warisan leluhur yang sangat berharga. Dengan melestarikannya, kita juga ikut menjaga cerita masa lalu untuk generasi yang akan datang.

Lagipula, di tengah serbuan arsitektur modern, rumah seperti ini memberikan warna dan keunikan tersendiri. Bisa jadi inspirasi juga buat desain rumah masa kini yang lebih ramah lingkungan dan filosofis.


Penutup: Yuk, Bangga Sama Warisan Kita!

Rumah Cacak Burung adalah contoh nyata betapa kayanya budaya Indonesia. Dari bentuknya yang unik, bahan alami, sampai makna filosofisnya—semuanya mencerminkan cara hidup masyarakat Banjar yang selaras dengan alam dan spiritualitas.

Jadi, yuk, mulai lebih peduli dan bangga dengan warisan budaya kita sendiri. Mungkin kita nggak tinggal di Rumah Cacak Burung, tapi kita bisa jaga kisah dan maknanya tetap hidup.